x-mud.com - Pada usia Dua puluh tahun, Iqbal El Assaad membuat sejarah sebagai dokter termuda di dunia. Gadis jelita ini menyelesaikan pendidikan kedokteran di Weill Cornell Medical College di Qatar (WCMC–Q) baru-baru ini. WCMC–Q adalah salah satu perguruan tinggi kedokteran terbaik di dunia.
Semasa kecil, Iqbal gemar membaca dan memecahkan persamaan matematika. Keterampilan kognitifnya yang baik dimulai ketika ia belajar aljabar bersama kakak-kakaknya saat melakukan pekerjaan rumah mereka.
"Saya harus mengajarkan abjad dan angka kepada anak-anak saya untuk mempersiapkan mereka masuk sekolah, tapi saya tidak pernah mengajarkan Iqbal untuk menghitung. Ia hanya memperhatikan kakak-kakaknya dan belajar dari mereka," kata ayahnya, Mahmoud Omar El Assaad.
Pada saat ia berusia lima tahun, kemampuan intelektual Iqbal mulai diakui secara luas di sekolahnya di Lebanon. lantas guru mengapresiasi kemampuannya dengan membiarkan Iqbal untuk melewati beberapa kelas.
Sebagai gadis yang berasal dari Palestina, ia bertekad untuk menggapai cita-cita masa kecilnya menjadi seorang dokter. Tekad itu berangkat dari kepedulian untuk memberikan perawatan medis kepada para pengungsi Palestina yang tinggal di kamp-kamp pengungsian.
"Semenjak keci, saya benar-benar ingin membantu orang lain. Keluarga saya memang tak hidup di sebuah kamp pengungsian, tapi kami punya anggota keluarga dan kami mesti mengunjungi mereka. Saya menyadari bahwa mereka sangat membutuhkan bantuan medis. Saya merasa bahwa cara terbaik untuk membantu mereka adalah dengan menjadi tenaga medis," tutur Iqbal.
Jadi ketika dia menyelesaikan sekolah menengah atas (SMA)pada usia 12 tahun, menteri pendidikan di Lebanon memberi peluang kepadanya untuk mendapatkan beasiswa. Namun tidak gampang, karena harus berkompetisi dengan yang lain.
"Ketika mereka memberitahukan ada kesempatan untuk belajar di Weill Cornell Medical College di Qatar, saya pun membaca tentang universitas tersebut, saya sangat senang. Weill Cornell kan terkenal di seluruh dunia dalam bidang kedokteran. Saya benar-benar senang menerima beasiswa tersebut," ujar Iqbal.
Iqbal akan memulai mengabdi di Klinik Cleveland, yakni sebuah klinik bergengsi di Amerika Serikat musim panas ini. Meski begitu, ia tak melupakan impian masa menjadi tenaga medis di kamp pengungsian.
"Mimpi terbesar saya adalah untuk kembali ke Lebanon dan membuka klinik gratis bagi warga Palestina di kamp. Saya ingin membantu mereka semaksimal mungkin," kata Iqbal. (MD)
Sumber:
gulf-times.com