GuidePedia

0
JAKARTA - Saat ini bukan lagi era mencari kerja tapi bagaimana kita mampu menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri dan orang lain. Apalagi jumlah wirausahawan di Indonesia belum mencapai jumlah ideal untuk menjadi negara makmur versi Psikologi Sosial David McClelland.

Pendapat tersebut disampaikan Asisten Deputi Urusan Kebijakan Pendidikan Koperasi dari Deputi Pengembangan SDM Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menegah (Kemenkop) Rully Nuryanto saat menjadi pembicara pada talkshow Kewirausahaan di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. Dalam acara tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad mengangkat tema "Young-preneurs to be Socio-preneurs".

Rully menyebut, saat ini adalah era kewirausahaan. Setelah lulus, mahasiswa jangan hanya berpikir untuk mencari kerja. "Kami ingin mengajak mahasiswa untuk berpikiran bahwa ada peluang lagi di luar sana. Tidak hanya jadi pekerja tapi menciptakan lapangan kerja," tutur Rully, seperti dilansir oleh Unpad, Jumat (27/9/2013).

Dia menambahkan, menurut data dari Ditjen Dikti 2011, lulusan perguruan tinggi yang meminati wirausaha masih sangat rendah, yakni 6,14 persen dari jumlah lulusan. Angka ini lebih kecil dari peminat wirausaha dari lulusan SMA yang mencapai 22, 63 persen.

"Mayoritas lulusan perguruan tinggi saat ini lebih memilih untuk bekerja sebagai karyawan di perusahaan. Padahal pemuda punya potensi yang luar biasa untuk menjadi wirausahawan karena sekarang kesempatan luas dan media untuk berekspresi juga lebih terbuka," ungkapnya.

Di Bandung, kata Rully, aura kewirausahaan sudah kuat. Terbukti dengan banyaknya usaha di bidang kuliner dan fesyen yang ada di Kota Kembang itu. "Salah satu kiat untuk menjadi wirausahawan adalah mulai dari hal-hal yang kita senangi. Bisa dari hobi kita, dari keahlian kita," imbuh Rully.

Menurut Rully, tahun ini Kemenkop telah mengalokasikan modal usaha bagi wirausaha pemula sebesar Rp54 miliar atau senilai Rp5 juta-Rp25 juta per orang. Modal usaha ini bersifat hibah.

"Penerima tidak diharuskan untuk mengembalikan, tapi harus memiliki tanggung jawab moral dalam mengelola dana tersebut. Selain itu, wirausahawan yang telah berhasil juga harus membantu masyarakat sekitar untuk menjadi wirausahawan," tambahnya.

Di samping itu, Rully juga mengingatkan mengenai pentingnya peran koperasi. Sebab masih banyak mahasiswa yang menyangsikan peran koperasi. Padahal koperasi bisa membantu mahasiswa dalam belajar berwirausaha dan menjadi wadah untuk belajar mengelola badan usaha dan mengembangkan potensi diri.

"Saat ini saya melihat belum ada koperasi di lingkungan kampus yang besar. Padahal anggotanya kaum intelek," ujar Rully.

Terakhir, Rully berharap Unpad melakukan pengembangan kurikulum kewirausahaan. Sehingga kelak dapat menjadi perguruan tinggi percontohan yang mengembangkan kegiatan kewirausahaan. (rfa)

Sumber: kampus.okezone.com   

Post a Comment

 
Top